Mungkin terlalu banyak yang harus dikenang dari masa lalu
sampai kini, tapi banyak pula orang yang lupa akan masa lalu. Dari sekian
banyak kenangan hingga tak cukup memory tuk mengingat kembali. Dari kisahku
kini adalah sebagian dari ingatanku yang belum sepenuhnya lengkap, karna
hanyalah manusia sepertiku yang belum sempurna tuk mengingat sepenuhnya tuk
mengenang masa lalu. Ini adalah sebuah kisah yang dapat aku ingat dan dapat
pula aku tulis.
Masa kecilku
Dari dua saudara kakak beradik, dan aku adalah adik dari
kakak tertuaku perempuan yang nasib hidupnya tak jauh berbeda. Namun yang
sesungguhnya saudara-saudaraku banyak namun semua itu adalah anak dari istri
tua bapakku. dari lain ibu saudaraku ada enam orang bersaudara, yang mana tiga
orang laki-laki dan tiga orang perempuan, masing masing kehidupannya sama
berbeda, ada yang melaut, pegawai swasta, dan pembantu di sebuah pesantren
ternama. semuanya dapat hidup sempurna dan damai sejahtera, begitu juga dengan
aku. Mungkin ini adalah kebenaran yang tetap ada/ingat dibenakku dimasa kecil
adalah ketika aku sangat bandel terhadap orang tuaku, tapi itu sudah disesali.
Disebuah
gubuk pedesaan, aku hidup bersama kedua orang tua dan saudara. Bapakku sering
melaut dan merantau mencari nafkah hidup keluarga, dan ibu yang terus tiada
kesah mendidik aku, terutama dibidang pendidikan. Aku setiap harinya sekolah
dan mengaji, kebetulan tempat ngajiku tak jauh dari rumahku. Dalam tempo lima
menit aku dapat melangkah cepat ketempat ngajiku, kadang aku tidak pulang dari
tempat ngajiku, dan kadang pula aku pulang, tidur dengan bundaku. Waktu itu ku
tidur di tempat ngajiku kira-kira sekitar jam dua belas malam dengan tiba-tiba
dalam benakku ada bayangan seorang ibu, disitulah aku menangis meronta dengan alasan sakit perut minta antar kepada
teman-teman ngajiku, dan kebetulan aku memang mempunyai seorang sahabat yang ku
anggap kakak aku sendiri, dialah yang mengantarku pulang kerumahku. Jadi memang
dari kecil aku belajar tuk mencintai seorang ibu _ kedua orang tua meski aku
sering berbuat salah kepadanya.
Malam
ada, siang pun ada pula, kalau malam ku pake kesempatan mengaji dan kalau malam
ku buat kesempatan tuk sekolah dan aktifitas lainnya. Bersekolah tidak luput
pula dengan kisah-kasih dan sedih diwaktu itu. Mungkin pertama aku sekolah yang
aku takuti adalah seorang guru yang penuh jasa sampai saat kini. dimana dia
adalah pengasuh lembaga di sekolahku. Kelas satu MI (madrasah ibtidaiyah) aku
tidak pernah naik, setelah disadari mungkin aku dulu terlalu bodoh dan nakal,
jadi tertinggal satu tahun dari teman-temanku. Namun setelah aku menyadari dari
kebandelanku ada pula cobaan dari kakak kelasku yang membantai aku dengan
ditendang-tendang kepalalu sampai pusing tujuh keliling, tapi aku tetap sabar
dan tegar tuk menjadi seorang yang tak ingin lagi mengulangi kebandelanku.
Setelah beberapa tahun menjalani aktifitas sekolah disana aku telah tercapai
sampai kelas enam MI/SD. disana pula ku mulai mengulang perbuatanku yang nakal
sehingga aku ditendang seorang guru karena tabungan yang guru mengadakan tapi
akhirnya dibubarkan oleh anak dan aku semuanya. Dan lebih tragis lagi kelas
enamku dulu, aku sempat terjatuh dan mengalami cedera patah tangan sampai
tulang keluar dari kulit lenganku. waktu itu aku sebelum berangkat kesekolah
biasanya berpamitan kepada keluarga semua dengan berjabat tangan, tapi ketika
itu aku tidak menyadari langsung berangkat menuju sekolah, namun apa daya ada
sebuah bambu yang roboh melintang ditengah jalan di atas kepala distu ada
sebuah sumur kecil yang ku naiki lalu ku melompat ke arah bambu itu dan bambu
itu sedikit basah dan licin akhirnya aku terjatuh dan menangis dengan
sembunyi-sembunyi dari penglihatan orang pulang menuju rumah, sesampai dirumah
tangis berderai keluarga dan tetangga tidak tega melihat kejadian yang menimpa
aku. Syukur dan alhamdulillah Alaah masih bisa menyembuhkan aku dari segala apa
yang terjadi pada waktu itu meski beberapa hari tidak bisa masuk sekolah.
Akhirnya
aku sudah dapat mandat/Ijazah kelulusan dari kepala sekolah disanapula ibuku
memberi mutivasi tuk meneruskan kembali ke MTS (Madrasah Tsanawiyah) Atau SMP
(Sekolah Menengah Pertama). Di tingkat sana pula aku mulai menjalin keakraban
berteman dengan satu dan lainnya, dan manis pahitnya juga ada sama rasa. Bahkan
Menginjak kelas dua aku mempunyai keinginan sendiri tuk mengabdikan diri ke
sebuah pesantren dan kebetulan lembagaku dilengkapi dengan pesantren, akhirnya
aku mondok tak sampai tiga tahun, dua tahun berjalan aku putus asa ditengah
perjalan dengan memutuskan tidak mondok lagi, tapi sekolah tetap berjalan.
Lulus
pula di MTS/SMP terus melanjutkan ke MA (madrasah Aliyah) atau SMA (Sekolah
Menengah Atas) dan itu pula berkat motifasi dukungan dari ibuku, di MA mungkin
terlalu banyak pahitnya dari pada manisnya, diantaranya aku di tinggal seorang
ayah pada waktu kelas tiga dan begitu pula banyak kehilangan teman yang tidak
melanjutkan studinya, yang dapat bertahan hanya ada enam orang, di situ pula ku
beri nama almamaterku dengan nama FAXIORI yang mempunyai arti (Fantastic Six Of Raudatul Ihsan). Di MA
inilah aku sering mengulangi kebandelanku kepada seorang guru, namun semua itu
semoga masih terbuka pintu maaf seorang guru dari segala apa yang aku perbuat. Di
Ma pula aku sering mengembangkan pikiran imajinasiku dengan mengarang sebuah
derama kecil-kecilan yang di tampilkan di pentas seni akhir tahun, inilah
cita-citaku menjadi seorang seniman yang tak tercapai hingga kini.
Bagaimana
dengan Kelulusan SMA? mungkin karena ekonomi yang tidak dapat mencukupi sebagai
biaya, akhirnya setelah lulus SMA aku tak lagi melanjutkan studi/kuliah.
disanalah aku mulai belajar bekerja tuk membantu mengurangi beban seorang ibu
yang menjanda. dan ibuku pula meminta maaf karna tidak bisa melanjutkan aku ke
perguruan tinggi/kuliah. begitu juga dengan aku yang sangat mengerti keadaan
ibu, dan aku tidak memaksa tuk melanjutkan kembali.
Alam
dan suasana yang sangat berbeda dengan perjalanan waktu aku masih bersekolah,
dan merasa pula kehilangan banyak teman belajar. disitu pula kuberfikir antara
kehidupan dimasa sekolah dan tidak sekolah sangat jauh berbeda. Sulit tuk
mempunyai pikiran berat hati dimasa sekolah mungkin karena terhibur dengan
banyak teman.
Awal
pengalamnku belajar bekerja yaitu membantu orang tua bertani, namun aku belum
mampu tuk menjalani semu itu, akhirnya aku bekerja kepada orang lain yaitu
mencoba tuk bekerja memelihara ayam potong, memelihara ribuan ayam potong
selama empat puluh hari tidak mudah, pagi siang dan sore harus tepat waktu
memberi makan ayam tersebut. sebab kalau tidak ayam itu bisa mati dan ku
dimarahi juraganku. satu tahun ku memelihara ayam banyak pula pengalaman yang
ku petik diantaranya ku bisa menggiling jagung dan beras, dan ketika sudah
musim tembakau sambil lalu pula bekerja tembakau milik juragan. Jadi selama dua
tahun berjalan aku memegang pekerjaan kopling dari berbagai pekerjaan dan
pengalaman.
Bukan
bosan bekerja namun takdir memberi jalan lain kepadaku dengan tidak lagi
bekerja, pada waktu itu aku jalan-jalan kesebuah kota, ditengah perjalanan ku
bertemu dengan teman yang baru aku kenal, dia mengajak ku tuk mengajar di
sebuah lembaga, disana aku mengadakan persetujuan tuk keluar dari pekerjaan dan
memindah alihkan ke lembaga itu. Akhirnya aku mengajar dengan beberapa murid yang
sangat berkesan.
Ternyata
pahit manis lagi yang aku harus jalani kembali, tanggung jawab adalah beban
yang tak dapat di tinggalkan, hal inilah yang harus aku jalani setapak demi
setapak. Mengajar lebih sulit dari belajar, karna mengajar butuh belajar.
disana aku juga harus menghadapi murid dan wali murid dan kiai murid,
kontraversi mulai menghujat gerak langkahku dengan tuntutan sebagai seorang
guru. Serba penilaian, murid menilai begitu apalagi wali murid!, Dengan rasa
sabar dan telaten menghadapi segala apa yang terjadi dan tuhan pasti masih memberi apa yang terbaik kepadaku.
Teruskah
aku mengajar? Mungkin Allah sudah berkehendak memberi tempat jodohku di kampung
itu, dari awal aku menginjak kawasan itu aku tak berfikir akan menyambung
persaudaraan di lingkungan itu, Setahun sudah selain mengajar aku dapat jodoh
pula dikampung itu, menjalani ta’aruf dengan seorang gadis yang sudah cocok
dengan hatiku dan akhirnya terus menyambung pertunangan walau sebelumnya
menimbulkan berbagai permasalahan.
Tapi
hatiku tegar meski banyak cobaan yang menimpa, sambil mencari hikmah jalan
terbaiknnya. pertunangan berjalan setahun pula, lalu dengan adanya lain faham
akhirnya pertunangan dilanjutkan dengan perkawinan, namun perkawinan ini bukan
perkawinan atas dasar negara, orang kampung mengatakan kawin siri, disana pula
aku menjalani satu tahun lagi. Sesuai dengan prosedur yang aku buat setahun
berkenalan, setahun bertunangan, setahun kawin siri, dalam hati mengatakan
saatnya kita merubah suasana baru.
Dalam
tiga tahun mengitari kampung itu akhirnya ku menikah secara resmi dan ku
dikaruniai istri yang sangat berharga buat saya karna dia mengerti saya,
keadaan saya yang tidak punya apa-apa. dan aku hanya bisa membagikan hati
kesetiaan saya.
Akhirnya
lima bulan menikah telah kujalani, terpetik lagi pikiran ku tuk mencari nafkah kita
bersama, aku melepaskan diri dari sebuah lembaga dan dengan tekatku istri yang
sedang menjalani pendidikan akhirnya dilepaskan pula. pikiran sudah begitu
matang saatnya ku mengulurkan tangan tuk berjabat perpisahan dengan kedua orang
tua dan mertua, disana aku berdua meluncur menuju saudaraku yang berada di
SURABAYA.
SURABAYA
adalah kota yang suasananya panas ketika musim kemarau, haus dan lapar sering
terasa, padahal di situ aku hanya menumpang dan keadaan ekonomi saudaraku hanya
bisa mencukupi keluarganya, akhirnya aku berusaha tuk mencari kerja untuk
sarana jalan hidup mandiri.
Lentera Ilmu disini aku bekerja dan menciptakan kemandirian walau tak seberapa mencukupi bagi orang yang merasa kurang. Tapi aku masih bisa bersyukur dan penuh kesabaran dan ketelatenan dengan pekerjaan yang tak begitu memakan tenaga.
Tapi bukan berarti pekerjaanku ringan, semua pekerjaan itu ringan di angan orang lain sedangkan yang mengalami sendiri banyak juga sambatannya.
Selama 2 tahun mengitari alam surabaya, syukur alhamdulillah aku di karuniai seorang anak yang memang ini direncanakan sesuai target hidup sejak menyatukan jalinan suami istri.
Sebenarnya proses dari perkembagbiakan di lakukan di bumi surabaya, tapi aku masih mempunyai daya ingat tentang kacang yang tidak lupa akan kulitnya, jadi di Maduralah ku lahirkan seorang gadis mongil yang dengan penuh yakin ku beri nama dia "ADINDA MAURITANIA NAFIEL" yang artinya bisa di istilahkan "seorang adik dgn khas suku Negara Mauritania" Kenapa harus dengan nama itu? Ketika sedang di kandungan ibunya saya paling senang membaca tentang toriqoh tijaniyah, kebetulan saya dari sebagian ikhwan toriqoh tijaniyah sejak tahun 2005.
Sewaktu membaca dari buku ataupun situs internet aku sempat menemukan hal islam marak di Negara Mauritania dengan anutan toriqoh tijaniyah, di sanalah ku putuskan jika suatu saat anakku lahir ku beri nama Negara tersebut.
Barokallah......
Alla Humma Amien .......
Tapi bukan berarti pekerjaanku ringan, semua pekerjaan itu ringan di angan orang lain sedangkan yang mengalami sendiri banyak juga sambatannya.
Selama 2 tahun mengitari alam surabaya, syukur alhamdulillah aku di karuniai seorang anak yang memang ini direncanakan sesuai target hidup sejak menyatukan jalinan suami istri.
Sebenarnya proses dari perkembagbiakan di lakukan di bumi surabaya, tapi aku masih mempunyai daya ingat tentang kacang yang tidak lupa akan kulitnya, jadi di Maduralah ku lahirkan seorang gadis mongil yang dengan penuh yakin ku beri nama dia "ADINDA MAURITANIA NAFIEL" yang artinya bisa di istilahkan "seorang adik dgn khas suku Negara Mauritania" Kenapa harus dengan nama itu? Ketika sedang di kandungan ibunya saya paling senang membaca tentang toriqoh tijaniyah, kebetulan saya dari sebagian ikhwan toriqoh tijaniyah sejak tahun 2005.
Sewaktu membaca dari buku ataupun situs internet aku sempat menemukan hal islam marak di Negara Mauritania dengan anutan toriqoh tijaniyah, di sanalah ku putuskan jika suatu saat anakku lahir ku beri nama Negara tersebut.
Barokallah......
Alla Humma Amien .......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar